Blog ini hanya berisi samapah-sampah pikiranku :D

Blog ini hanya berisi samapah-sampah pikiranku :D
Blog ini hanya berisi sampah-sampah pikiranku :D

Sabtu, 29 Oktober 2011

Belajar Dari Alvin

Jum’at 28 Oktober 2011
16.00

Hari ini hujan tak henti menebarkan kekuasaanya.
Dengan kondisi tubuh yang kurang baik, aku tetap memutuskan pergi ke tempat itu. Ruangan kecil berukuran 2x2 m. Hari ini, hari terakhir aku mengajar diruangan ini. Sedih, tapi ini jalan yang terbaik menurutku.

“Hari ini hari terakhir kakak mengajar disini. Maafin kakak ya, kalo selama ngajarin kalian, kakak jutek n galak. Tapi itu semua demi kalian, supaya kalian dateng kesini kpanasan atau kadang keujanan jadi ga sia-sia. Kakak pengen liat kalian sukses semua. Pokonya nanti sama kakak pengajar yang baru kalian ga boleh nakal ya.” Ko rasanya sedih ya, abis ngucapin kata-kata itu.

Hemmppt... jadi inget waktu pertama kali ngajar disini, hari pertama ngajar ga ada satu anakpun yang ngedengerin aku ngomong. Hari kedua, dilempar spidol sama Alvin (anak yang paling susah diatur mirip banget kaya aku waktu kecil ;p . Buat aku saat itu, senakal-nakalnya anak-anak disitu, aku tetap harus lebih nakal, segalak-galaknya anak-anak disitu aku tetep lebih galak, karena apa??? Karena buaya ga mungkin bisa dikadalin. Hahahhaa ....... :D

Aku               : Nama kamu siapa?
Alvin             : Alvin (dengan nada cuek)
Aku               : Kenapa kamu lempar spidol itu ke kk?
Alvin             : Ga apa-apa
Aku               : Alvin tau, spidol itu gunanya untuk apa ? (dengan nada n ekspresi super jutek)
Alvin             : Buat nulis
Aku               : Trus kenapa kamu lempar ke kk?
Alvin             : (hanya diam)
Aku            : Kk berdiri disini Cuma mau bantu kalian, supaya kalian bisa ngerti matematika.      
                   Biar kalian ga di marahin lagi sama guru atau sama ayah ibu kalian. Tapi kalo kalian  ga mau di bantu sama kk yaudah kk pulang ajah. Siapa disini yang masih mau di ajarin sama kk? Ga ada? Oke, kk pulang.
Seluruh anak-anak      : (mengangkat tangan)...
Aku                : :)

***

Aku pikir kata-kata itu merupakan ramuan mujarab untuk menundukkan hati mereka, ternyata....

Pertemuan ke-4

Lagi-lagi anak bernama Alvin itu mencari gara-gara denganku. Kali ini ia menendangku. 

Hemmmppt....
Belum tau dia, siapa gurunya. Tendangan kedua ia luncurkan kepadaku, namun naas, aku bisa membaca gerakan kakinya dengan sangat mudah. Ia mengerang kesakitan. Aku membuka kuncianku. Alvin kembali ketempat duduknya, kemudian ia memperhatikan pelajaran yang aku sampaikan (aga’ ga yakin sih, dia memperhatikan atau mengerang kesakitan. Hehehee... J maaf ya Alvin). Setelah kelas selesai:

Alvin             : Kakak, apin mau minta maaf sama kk
Aku              : Iya, maafin kakak juga ya. Kenapa sih, Alvin kaya gitu ke kakak? Emang kakaknya     

                        nakal ya??
Alvin            : Kakak ga nakal, Apin yang nakal. Apin pengen punya temen yang bisa diajak main    
                      bukan diajak belajar....

Sejak saat itu, entah kenapa aku dan alvin menjadi sangat dekat. Dan sejak saat itu juga aku baru tahu, kalo beban yang ia tanggung sangat berat untuk anak seusianya. Ia hanya korban dari orangtuanya. Dan aku merasa bersalah telah berpiiran negatif tentang anak ini. Ternyata memang benar, anak-anak punya dunianya sendiri, ia melakukan apa yang mereka rasakan dan inginkan. Mereka melakukan sesuatu karena sesuatu yang mereka rasa.

***

Dan hari ini, Jum’at 28 Oktober 2011 jam 17.08, seorang bocah berusia 9 tahun itu memelukku dengan erat. “Apin ga mau kakak pergi, Apin sayang kakak, Apin janji akan ranking 1 dikelas.”
Melihatnya menangis membuatku ikut menitikkan air mata. Sungguh, aku tak tahu apa yang telah kuperbuat hingga anak ini begitu berat melepasku. Aku, seseorang yang sangat benci dengan dunia mengajar. Aku benci belajar. Aku membencinya karena beberapakali aku disakiti oleh makna belajar itu sendiri.

***

Tahun 2006, saat hasil ujian nasional yang aku capai dengan belajar sepenuh hati bernilai sangat kecil sedangkan temanku yang tidak pernah belajar dan dikertas jawaban hanya mengisi beberapa nomer mendapat nilai yang lebih besar karena dibantu oleh beberapa pihak. Dengan nilai pas-pasan itu, aku gagal masuk ke SMA negeri. Dan harus menelan kenyataan pahit, masuk kesekolah yang tidak diharapkan (meskipun pada akhirnya aku mencintai sekolah ini).

Tahun 2009, aku belajar dengan sangat keras matematika, tak pernah aku mempelajari mata pelajaran lain. Aku harus belajar karena aku ingin menjadi sarjana matematika. Namun, apa yang kudapat. Lagi-lagi hanya kecewa yang kudapat dari belajar. Aku diterima di Jurusan Biologi bukan Matematika.

Masihkah aku percaya pada kata belajar????

Hari ini, YA aku percaya kata belajar. Belajar itu, bukan suatu paksaan. Belajar itu bukan ketika kita lulus dari apa yang kita inginkan tetapi belajar itu ketika kamu bisa menilai siapa dirimu dan bagaimana dirimu, Belajar bukan suatu hal yang kamu telah kuasai tetapi sesuatu yang kamu tidak bisa. Kenapa aku tidak diterima di Matematika karena mungkin aku bisa memahami pelajaran tersebut tanpa perlu masuk didalamnya. J

***
Alvin              : Aku sayang kakak, alvin mau kakak jadi sahabat Alvin. Mami sama Papi ga 
                        sayang Alvin, terus kakak juga ga sayang Alvin.
Aku              : Ko alvin bilang gitu. Mami sama Papi Alvin bukan ga sayang Alvin. Mereka sayang 
                   banget loh, mereka kerja buat Alvin, supaya Alvin bisa jadi insinyur. Katanya Alvin 
                   pengen bisa kaya Pak Karno... J
Alvin             : Alvin  sayang kakak
Aku                : Kakak juga sayang Alvin

Taukah kamu, Alvino Dea Rianto. Kamu yang menyadarkan aku, kalau aku layak menjadi seorang pendidik. Kamu seorang motivator yang sangat baik. Kamu yang mengajariku makna belajar. Kamu yang mengajariku bersyukur. Kamu yang mengajariku dewasa. Kamu yang mengajariku bersyukur dan mengenal Tuhan. Aku pasti merindukan kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan komentar, jangan lupa disertai nama ya